Dar, berikut adalah percakapan imajiner antara sebuah traffic light (TL) dengan sebuah sepeda motor (SM) yang penyok disenggol sebuah mobil sedan .
Percakapan itu terjadi di suatu minggu sore tahun ini. “Hooii berhenti, lampu disebelah kiri hijau. Hooi stop, bahaya!” . Suara TL itu terdengar parau karena sudah berbulan-bulan ia berteriak- teriak mengingatkan pengendara mobil dan sepeda motor yang melintas di depannya. TL itu terletak di perempatan jalan Pati Unus dan jalan Hang Tuah 7 Kabayoran Baru Jakarta Selatan. Sudah berbulan-bulan TL yang mengarah ke jalan Hang Tuah 7 mati tetapi yang mengarah ke jalan Pati Unus tetap berfungsi. Oleh kerena itu pengendara dari arah Hang Tuah 7 harus ekstra hati-hati dan mengira-ngira apakah TL di sebelahnya sedang hijau atau merah.
Celakanya, banyak sepeda motor dan mobil mengira kedua sisi TL itu mati semua sehingga banyak yang nyelonong dan nyaris tabrakan. Itulah sebabnya TL jl Hang Tuah 7 selalu berteriak-teriak sebagai pengganti fungsi lampu hijau, kuning dan merahnya yang mati. Dan hari itu, peristiwa yang dikhawatirkan TL itu benar-benar terjadii. Sebuah sepeda motor jatuh ditabrak sebuah sedan di perempatan jalan itu. Pengendaranya mengalami luka berat dan langsung dibawa ke rumah sakit. Sedangkan sepeda motor mengalami penyok bagian depannya. Agar tidak menghalangi kelancaran lalu lintas, sepeda motor yang penyok itu didorong polisi dan diletakkan persis di belakang TL jalah Hang Tuah 7.
Melihat TL yang lampunya mati itu berdiri tegak disebelahnya, SM langsung nyap-nyap :
SM :” Kamu sih mati, sehingga saya celaka seperti ini”
TL : “Saya kan sudah teriak, hooi berhenti , TL disebelah hijau!”
SM : “Mana kedengaran, bos saya kan pakai helm. Kenapa sih kamu nggak diperbaiki, katanya kota Metropolitan. Masak ganti TL yang mati aja nggak mampu”.
TL : “Mana saya tahu, bukan prioritas kali”.
SM : “Gimana sih, ini menyangkut keselamatan manusia. Harus prioritas dong”.
TL :”Gimana ya, Pak Camat, Pak Wali dan Pak Dishub sudah sering lewat sini, tapi mereka ga peduli”.
SM : “Mungkin kamu harus lapor pak Gubernur”
TL : “Males ah, beliau sedang sibuk persiapan Pemilukada. Ntar dia marah”.
Percakapan TL dan SP terhenti karena ada sebuah mobil pikap berhenti persis di depan mereka. Bunyi musik dangdut yang keluar dari radio di pikap itu sangat bising. Setelah musik selesai, terdengar suara penyiar membacakan berita: “Dari ke enam pasangan calon gubernur, hampir semuanya menjanjikan akan mengatasi kemacetan lalu lintas dan banjir di Jakarta dalam waktu tiga tahun” demikian ucapan penyiar radio itu dengan lantang.
Alih-alih senang, TL dan SM yang mendengar berita itu malah mencibir. “Yang mengaku akhlinya saja tidak mampu mengganti TL yang mati, gimana para pendatang baru bisa mengatasi kemacetan lalu lintas dan banjir dalam tiga tahun . Gombal !” kata TL dan SM serentak.
Tidak lama kemudian beberapa petugas mengangkat sepeda motor yang penyok itu keatas pikap. Tinggalah TL sendirian dan kembali berteriak : “Hooi berhentii, hooi stop. TL di sisi jalan Pati Unus sedang hijau”. Suaranya terdengar semakin parau.
Jakarta, 28 Mei 2012
MS