Tag Archives: big monsters

Surat kepada Sahabat : The Big Monsters

Selamat pagi sahabat.

Dar, ada seorang sahabat mengirim BB kepada saya mengutarakan kekesalannya. “Kenapa sih, para “big monsters” selalu  cengengesan dan tampak penuh percaya diri ketika keluar  dari gedung KPK,  walaupun  mengalami pemeriksaan berjam-jam?” tanyanya.  ”Big monsters” adalah istilahnya kepada para menteri, gubernur, bupati, walikota  dan anggota DPR yang menjadi saksi,  tersangka atau terdakwa kasus korupsi. Jawaban saya adalah  tidak tahu. Yang tahu hanyalah  para terdakwa, saksi  atau tersangka itu sendiri dan Tuhan. Ternyata jawaban seperti itu tidak saja telah mengecewakan sahabat yang mengirim BB, tetapi juga telah membuat saya susah tidur memikirkan pertanyaan sahabat yang penasaran itu.

Kegelisahan itu telah menuntun saya untuk menjumpai   sahabat lama, seorang pakar Public Relations (PR) yang terkenal dan seorang bekas  teman kuliah yang sekarang menjadi  politisi di Senayan.

Menurut pakar PR itu, para saksi ,tersangka dan terdakwa hanya bermain sandiwara di depan kamera TV. Mereka tersenyum dan berusaha  terlihat se – pede mungkin untuk menimbulkan kesan bahwa mereka “tidak bersalah”.  Tapi yang namanya sandiwara, kadang-kadang  tanpa disadari terlihat juga aslinya. Teman pakar PR itu mencontohkan seorang tokoh nasional yang selalu menyatakan dirinya tidak tersangkut beberapa kasus korupsi  yang dikaitkan dengan dirinya. “Walaupun ia tampak tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan  wartawan,  tapi dari sorot mata dan gerak tubuhnya terlihat jelas bahwa sang tokoh nasional itu sedang menghadapi masalah besar” ujar teman PR tadi.

Teman yang menjadi politisi di Senayan lain lagi penjelasannya. “Pak, tuduhan korupsi itu adalah strategi politik untuk menjatuhkan seseorang” katanya. Ia panjang lebar menjelaskan bahwa sejak zaman orde baru , kebiasaan mark up proyek dan pemberian uang komisi adalah hal yang biasa dan lumrah. Jadi para pejabat dan politisi yang terlibat  korupsi karena membayar atau menerima komisi proyek sama sekali  tidak merasa   berbuat dosa. “Jadi wajar saja kalau mereka penuh percaya diri dan masih bisa tersenyum  di depan kamera”. lanjutnya.

Alasan lain adalah perhitungan rugi laba. Menurut kawan politisi tadi, rata-rata hukuman para koruptor adalah dua tahun dan denda di bawah 500 juta rupiah. “Kalau korupsinya milyaran rupiah dan masa menjalani hukuman bisa hanya 15 bulan karena remisi, jadi sejatinya mereka masih untung secara materi” katanya dengan semangat. “Boleh dong, orang untung tersenyum” lanjutnya sumringah.

Lalu saya tanyakan apakah mereka tidak malu  dihukum sebagai koruptor . “Bung, manusia Indonesia itu sangat pemaaf. Kalau kelak ia bebas dari penjara lalu  hidup pemurah memberikan derma dan sumbangan kanan-kiri, pasti masyarakat menyanjung-nyanjungnya kembali sebagai orang terhormat” kata sahabat politisi tadi dengan enteng.

O oh, maka terjawablah pertanyaan  mengapa  para “the big monsters”  masih  dapat berdiri tegak dan tersenyum lebar di layar TV.

Ach, dasar koruptor.

Jakarta, 30 Mei 2012

MS

Leave a Comment

Filed under Politik