Selamat pagi sahabat,
Dar, pernah dengar istilah raja-raja kecil? Biasanya istilah itu dikaitkan dgn para bupati dan walikota yang memiliki kekuasaan, fasilitas, kehormatan dan pelayanan tak ubahnya seperti seoarang raja di daerah.
Tapi dar, ternyata bukan para bupati dan walikota itu saja. Disekitar kita banyak sekali bertebaran raja- raja kecil lain. Di kantor ada bos-bos yang berperilaku seperti raja kecil. Tidak saja mereka suka memerintah anak buah semau-mau mereka, bos-bos seperti ini sering gila hormat. Bahkan, ada bos yang menugasi sekretarisnya sampai urusan tetek bengek rumah tangga.
Di kalangan perwira ABRI dan pejabat pemerintah, banyak juga raja kecil. Lihat saja fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada seorang komandan. Makin tinggi jabatannya, makin lengkap pelayanan dan pengawalannya. Sampai- sampai membawa dan membuka kacamata baca saja harus dilakukan seorang ajudan.
Di rumah sakit, banyak sekali dokter yang berperilaku seperti raja kecil. Mereka berkuasa terhadap para perawat dan paisen. Tidak jarang pasien harus berjam jam menunggu dokter, walaupun telah ada jadwal kunjungannya. Saya sendiri sering mengalami perlakuan seperti itu.
Suatu hari saya diperiksa seorang dokter spesialis rumah sakit terkenal. Dar, ketika baju saya sudah dibuka dan sang dokter sudah mengeluarkan stateskopnya, tiba-tiba telpon berdering. Pak dokter pergi ke kamar sebelah mengangkat telpon. Karena pasiennya banyak, dokter itu menggunakan dua kamar bersebelahan untuk prakteknya. Lima menit berlalu, saya masih sabar. Setelah 10 menit menunggu, saya hanya mengurut dada. Setelah 15 menit, emosi saya meledak. Hanya dengan memakai kaos singlet, saya datangi dokter itu. ” Maaf dok, dokter harus memeriksa saya sekarang” dokter itu terlihat kaget. “Tapi saya sedang ada telpon penting dari Profesor anu di UI” katanya . “Dok, emangnya waktu dokter saja yang berharga. Waktu saya juga berharga. Dokter sudah terlambat datang 1 jam dan menterlantarkan saya 15 menit, tidak fair” suara saya mulai meninggi. Akhirnya dokter itu menutup telponnya dan minta maaf.
Pengalaman kedua sudah pernah saya ceritakan. Cucu saya umur 5 tahun pernah empat jam menunggu di ruang operasi karena dokter yg akan mengoperasi amandelnya terlambat datang ke rumah sakit.
Pengalaman terakhir baru terjadi kemaren. Saya dijanjikan untuk bertemu dengan dokter yang merawat adik saya di sebuah rumah sakit, jam delapan pagi. Ternyata dokter itu tidak muncul sama sekali dengan alasanber macam-macam. Saya hanya ditemui oleh wakilnya, itupun pada jam satu siang. Terlalu!
Dar, itulah akibat dari kondisi masyarakat kita yang feodal dan tidak menghargai profesionalisme. Sesungguhnya, bupati, bos di kantor, perwira abri, dan dokter hanya menjalankan tugas dan kewajiban mereka. Mereka tidak perlu dilayani berlebihan dan memperlakukan orang lain dengan seenaknya. Mereka telah dibayar bahkan dibayar oleh uang rakyat bagi para pejabat negara.
Hanya keteladanan dari para pemimpinlah yang dapat merubah hal ini. Kalau Presiden, Menteri, Bupati, Kepala Rumah Sakit dan Direktur perusahaan memberi contoh tidak berperilaku seperti raja-raja kecil, mungkin penderitaan kita sebagai rakyat tidak akan separah seperti sekarang. Semoga.
Jakarta, 13 Juni 2012
MS